Cinta Yang Hilang.

Bismillahirahmanirahim.

“Allah, Allah, Allah… ”
Bibirnya pelahan menyebut nama Allah. Terasa ada getaran di hatinya saat nama mulia itu dituturkan. Ketenangan terasa menyelinap masuk ke segenap urat nadi, mengalir di gegelung darah dan halus menyentuh denai rasa.

“Rasailah Allah itu dekat dengan diri kita. Rasailah akan agungnnya Allah. Sedarkan diri akan kebesaran Allah. Hadirkan Ihsan itu.”Suara Pak Setiyo kedengaran mendayu-dayu, menunjuk ajar.

“Pertahankan kesedaran itu. Pertahankan kesedaran akan dekatnya allah itu. Sesungguhnya Allah itu amat dekat sekali dengan hambanya.”

Tanpa disedarinya, air matanya menitis pelahan.

“Allah… Allah… Allah… ”

“Sekarang, dalam keadaan kesedaran akan dekatnya Allah kepada diri kita, angkatlah takbir, agungkan kebesaran Allah, rasai akan betapa Maha Agung dan Maha Besarnya Allah”

Lantas, dia mengangkat takbir dalam keadaan penuh kesedaran akan dekatnya Allah pada dirinya.

“Allah… Allah.. Allah..”

Dapp..

 Dia terduduk..

Air matanya semakin laju mengalir. Salah seorang  kakak fasilitator program menghampirinya.

“adik ok ke?” perlahan suara akak itu bertanya.

Dia tidak mampu menjawab. Tika itu, dia hanya mahu menangis sepuas-puasnya sambil hatinya tidak mahu berhenti menutur nama agung itu.

Kakak Fasi itu menariknya ke belakang untuk tidak menganggu kosentarasi peserta program yang lain.

 Dia mengikut.

“Adik ok?” Sekali lagi pertanyaan dilontarkan lembut.

“Mar, biarkan dia menangis..” Seorang wanita lingkungan 40-an, menyuruh fasilitator yang dipanggil Mar itu membiarkan saja.

Mar mengangguk.

Belum sempat Mar bangkit, dia menarik tangan Mar.

“Maafkan saya akak. Saya menangis bukan kerana apa-apa melainkan kerana rasa sedih dan menyesal. Saya hamba Allah yang tidak pernah bersyukur kepada Dia. Saya selalu menganggap Allah tidak adil kepada saya. Saya selalu merasakan Allah tidak mempedulikan saya dan tidak mengasihi saya. Saya sering mempersoalkan akan apa yang telah terjadi dalam hidup saya kepada Allah. Saya juga sering tidak berpuas hati dengan apa yang Allah takdirkan buat saya. Saya rasa Allah begitu kejam dan jahat sekali kepada saya.”

Esakkannya semakin kuat.

“Tapi saat saya menjejak kaki ke sini, saat saya belajar mengenal siapa diri saya, siapa Allah, erti berserah dan pasrah, saya terasa malu dengan Allah… amat malu. Hakikatnya, Allah begitu menyayangi saya. Dia dekat sekali dengan saya. Tapi saya yang tidak merasai akan dekatnya Allah pada diri saya. Allah itu menyayangi saya melebihi saya menyayangi diri saya sendiri. Apa yang ditakdirkan Allah dalam kehidupan saya, meskipun tidak selari dengan kehendak hati saya, ternyata besar hikmahnya.”

Dia menunduk.

Rasa dalam diri bercampur baur. Sedih, malu dan kerdil memenuhi ruang atma.

“Adik, Allah itu maha pengampun, mintalah ampun akan kekhilafan adik kepada Allah. Yakinlah, Allah pasti mengampunkan dosa-dosa adik. Bersyukurlah juga, kerna Allah menyentuh hati adik, dan memberi rasa akan dekatnya Dia kepada adik.”

Adik itu mengangguk lemah dalam keadaan yang masih teresak. Mar memeluk adik itu, lantas menyentuh ubun-ubunnya. Allah, engkau telah sentuh hati adik ini dan sedarkan dia akan dekatnya Engkau dengan dirinya, kekalkanlah dia dalam rasa itu, berikan dia akan nikmat ketenangan itu, dan sentuhilah juga hatiku seperti Engkau sentuhi hatinya… ameen.

“Sesungguhnya perkara seorang mu’min itu menakjubkan, karena semua perkara yang dialaminya adalah baik; jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu lebih baik baginya, jika mengalami kesulitan dia bersabar, maka hal itu lebih baik baginya, dan hal seperti itu tidak terdapat kecuali pada diri seorang mu’min.” (HR. Muslim).”

 

–> diri yang mengharap Allah<–
Program Kusyuk solat oleh Pak Setiyo.

 

Advertisements

About tintaperjuangan

seorang yang suka memerhati.
This entry was posted in -tinta sanubari-. Bookmark the permalink.

3 Responses to Cinta Yang Hilang.

  1. asyrafsalleh says:

    perkongsian yg mantap dari pengisian program yg hebat..

  2. Hafizul Faiz says:

    Saya mengagumi keberhasilannya. Tahniah, benar bahawa Dia sentiasa ada dekat di hati. Selamat mengembara!

  3. Raihan says:

    Allahu Akbar! Ya Allah,sentuhlah hati2 kami sebagaimana kau sentuh hati adik itu :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s